Menghadapi Tenaga Kerja Asing dengan Kompetensi.

Ketika saya ikut pelatihan Assesor untuk yang kedua kalinya April 2017 ada ceritaan yang sangat menarik. Tentang serbuan tenaga kerja asing dan tentang Bu susi. Saya sedikit meringkas disini sambil sedikit saya tambahin.


Masyarakat Ekonomi Asia (MEA)


Yang pertama diceritakan adalah tentang serbuan tenaga kerja asing. Ada yang bilang karena pemerintah sekarang pro asing. Mungkin benar, tapi setelah saya lihat ketika SD, guru saya selalu bilang adanya Globalisasi di tahun 2010. Kalau pas SD ga dapat ceritaan ini mungkin gurunya lupa cerita, atau mungkin pas ga perhatiin di kelas, atau generasi kita beda.

Kembali ke globalisai, saat ini MEA sudah dibuka, artinya kita bisa kerja ke seluruh ASEAN kalau sanggup jauh dari pacar. Maksudnya mau kerja di singapura boleh, mau ke thailand boleh, ke tempat lain juga boleh. Tapi mereka juga bebas masuk ke Indonesia.

Artinya saingan kita adalah lulusan SMK se ASEAN.

Pasti kita ingin bilang jangan boleh dong mereka masuk. Banyak orang kita yang belum kerja, persidennya pro asing sih. Ternyata pemerintah memberi 2 password yang pertama adalah Kompetensi dan yang kedua adalah Bahasa


Password yang dilanggar.


Ketika indonesia begitu ketinggalan soal transportasi publik, pemerintah saat ini ingin membangun MRT, LRT, kereta cepat, dan juga listrik 35.000 Watt pemerintah diminta menyediakan tenaga untuk 42 bidang kompetensi. Tetapi ternyata kita tidak bisa menyediakan. La wong standartnya aja ga ada.

Realitanya standar kompetensi otomotif aja kabarnya disusun 1998. Ketika diresmikian 2004. Pas di uji pun, assesor saya cerita (kebetulan beliau dari pariwisata), ada negara yang tidak mengakui sertifikat kompetensi kita karena metode uji nya, ada juga yang sertifikatnya di kembalikan ke indonesia karena hasil ujinya tidak sesuai dan standarnya ga kekinian.

La terus sertifikat kompetensiku buat apa?

Saya lagi bertanya-tanya kenapa banyak pekerja asing yang tidak bisa bahasa indonesia. Mungkin ini yang membuat kewajiban harus berbahasa indonesia di tangguhkan. Ibarat pengen bangun rumah, anaknya ga ada yang mau bantu, akhirnya ambil dari luar supaya rumah cepat selesai. Artinya kita semua dan pemerintah harus segera berbenah dengan meningkatkan kompetensi bidang kita masing-masing. Jangan mau jadi penonton. Karena dimana-mana penonton bayar. Kalau pemain dibayar mahal.

Ah itu salah pemerintah. Pemerintah bisa cetak ribuan sertifikat kompetensi dalam semalam, cuman kalau kita yang dapat sertifikat ga bisa bersaing buat apa? Jadi pemerintah atau pemerintah plus kita?

Password kedua adalah kompeten. Disini kita tidak bisa melawan. Ibarat main bola kita sebagai tuan rumah mewajibkan musuh pakai sepatu, kita sendiri tidak pakai sepatu.

Sama aja ketika mereka datang, kita minta mereka kompeten, padahal kita juga ga punya sertifikat kompetensi. Loh kan kita tuan rumah !!!!!!!! Ingat sudah MEA. Kalau main bola, kita hanya boleh memilih warna seragam, bukan mengatur pertandingan.

Ah ini mah pemerintah aja yang ga bisa. Ini mah karena dia pro asing..

Awalnya saya setuju, cuman secara logika cerita diatas ada benarnya. Kesepakatan ASEAN sudah di tetapkan sejak dulu, la wong saya dapat cerita sejak SD. Artinya saat ini kita yang harus bersikap. MARAH juga boleh, tetapi ingat marah untuk meningkatkan kompetensi bidang kita. Mengeluh hanya akan menghabiskan tenaga kita. Update status, minta ganti pemerintah supaya kebijakan MEA dihapus juga ga bisa. Mari arahkan telunjuk kita ke diri sendiri. Sudahkah saya kompeten? sudahkah saya Ahli? Sudahkan saya Bisa! Mari bendung tenaga asing dengan kompetensi kita.

30 % penduduk ASEAN ada di indonesia, menguasai Indonesia artinya menguasai ASEAN.


Cerita Menteri lulusan SMP


Mungkin kita semua sudah menduga siapa orangnya. Yup, ibu susi. Diceritakan ibu susi ingin mengambil sertifikat kompetensi. Untuk ujian kompetensi beliau diuji oleh 7 orang ahli di bidang kelautan, dll. Plus master assesor.

Ketika diuji kompetensi, disimpulkan ibu susi lulus Level 9 untuk 3 bidang kompetensi. Level 9 artinya ahli dan boleh dibilang setingkat doktor.

Ah itu kan bu susi ga bergelar. Mungkin versi kami yang ga bergelar. Ah gelar tinggi buat apa, teori beda ama praktek, saya ga setuju sih kalau dibilang teori beda ama praktek, soale kadang-kadang ilmuku yang ga nyampai buat jelasin. Monggo lah debat sendiri.


Cerita tentang pecel lele


Kenapa sih banyak yang bilang susah cari kerja? Padahal kalau industri juga selalu bilang susah cari karyawan.

Wah ada yang salah dimana?

Saya mau cetiya tentang ilustrasi Pecel lele, kalau kita beli mungkin harga 12.000. Syaratnya harus ada lele, sambel dan lalapan. Kalau ga ada lalapnya, mungkin masih oke kita terima, cuman kalau tidak ada lelenya maukah anda bayar 12.000? Ga mau kan. Ah ntar penjualnya ntar demo lho

Maksudnya apa sih? Ada banyak pelamar kerja ingin bekerja sebagai mekanik. Ketika saya tes, tanya mesin 4 langkah, tanya komponen mesin, dia menjawab lupa atau tidak diajarin. Artinya ibarat pecel lele tadi, yang saya dapat baru lalapannya aja, tidak ada lele-nya.

Wah saya salah ngetes anak jurusan tata boga kali.

Mari berusaha kompeten. SMK bisa. Mari berdemo, untuk minta tingkatkan kompetensi kita. Tanpa peningkatan kompetensi kita akan kesulitan bersaing dengan negara lain.

KOMPETEN ! BISA !







Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Menghadapi Tenaga Kerja Asing dengan Kompetensi."

Post a Comment